Exfector ke Cipatujah (part 2)

Setelah kami semua sampai di rumah bambu Nisya—kecuali Ojul yang kabur, tentu saja—kami langsung mengistirahatkan badan, alias tepar. Ada yang langsung tidur-tiduran, membuka cemilan, ngobrol ngalor ngidul, mengisi baterai handphone, atau mendengarkan musik.

Dan beberapa saat kemudian, Ojul datang dengan motornya, menghadang batu alien dan lumpur, kemudian dengan sukses memarkirkan motornya. Oke, kau lumayan juga.

Lalu kami kembali tenggelam dalam istirahat, sambil sesekali rebutan cemilan dan kue-kue yang entah darimana asalnya—yang aku habiskan dengan biadab dalam satu suapan, mempermasalahkan paku yang menancap di balik karpet—yang akhirnya berhasil aku cabut, maupun foto-foto bersama.

Dan entah siapa yang memulai, tapi setelah itu kami mulai membicarakan acara utama kami, yaitu munggahan.

"Hei barudak, di si Nisya geus aya nasina, tapi rencangna kumaha?"

"Tuh ada ayam, tapi digoreng dulu."

"Ada kompor ga?"

"Aya ge suluh."

"Tah Yanti jeung si Babay we jeung si emang meuli lauk ka pamayang."

Dan kemudian mereka pergi.

"Eh saha nu masak ieu hayam?"

"Teu aya air di dieu, kumaha mun rek solat?"

"Tanya ka si Ojul!"

"Ojul, tadi solat di mana?"

"Eta di dinya, caket da..."

"Siapa yang solat?"

"Aku... aku..."

"Ke mesjid yuk..."

"Hayu-hayu."

Dan dengan kejam kami—aku, Milda, Annisa, dan Detut—meninggalkan mereka yang sedang berhalangan, Maya, Dede, dan Upeh yang akan mempertaruhkan jiwa mengahadapi "suluh" untuk menjadi bintang dapur royco jadi-jadian (Adegan berbahaya, jangan ditiru).

Yang belum tahu, suluh di sini adalah kompor tradisional yang menggunakan kayu bakar.

Lalu kami yang pergi segera melewati lagi jalan aneh itu, dan sampai di pinggir jalan.

"Si Ojul solat dimana?" sambil mencari-cari.

"Tuh!" ternyata masjid yang dicari berada tidak jauh dari kami, di seberang jalan.

Kami segera menyeberangi jalan yang sepi dan tidak terlalu lebar, kemudian langsung ke belakang mesjid untuk mengambil air wudlu, lalu masuk ke masjid. Tapi alangkah terkejutnya kami karena tidak ada satu pun mukena di sini.

Annisa mengatakan kalau dia pernah meminjam mukena ke ibu-ibu di sebuah rumah bercat krem yang tidak jauh dari sana, tapi saat itu dia bersama Nisya, jadi tidak begitu masalah. Sekarang, tidak ada yang berani untuk meminjam dan kami semua bingung.

"Rek nanaonan atuh di dieu."

"Teuing."

"Mun kitu mah solat we di sana."

"Pan teu aya air neng."

"Ada mukena kan di sana? SMS geura si Ojul, suruh mawa mukena."

"Daekan kitu?"

"Eh, kitu-kitu ge bageur. Tibatan si Babay..." (dan menjurus ke pembicaraan ngalor ngidul)

Intinya, kami mengirim pesan ke Ojul untuk membawa mukena ke masjid, lalu mengobrol sampai wajah Ojul muncul di jendela. Tanpa dikomando aku segera keluar dari masjid dan mengambil mukena itu sementara Ojul pergi begitu saja tanpa membiarkanku mengucapkan terima kasih.

Setelah itu kami memakai mukena itu secara bergiliran. Aku yang pertama, lalu Detut, Milda, dan yang terakhir Annisa. Tiba-tiba Milda berkata, "Tinggalkeun we si Annisa..."

"Aaaaa, Milda jahat!" Annisa membalas.

Tiba-tiba Upeh, Maya, dan Dede datang, kemudian kami hanya mengobrol sambil berdandan. Sebenarnya, aku tidak ikut berdandan, hanya mereka yang berdandan, dengan bantuan cermin dua arah yang salah satunya membuat bayangan yang dipantulkan terlihat lebih besar.

Setelah puas mengobrol, kami kembali ke rumah bambu Nisya. Ternyata makanan sudah dimasak dan siap dibawa ke saung Nisya. Makanan yang aku maksud adalah nasi (tentu saja!), dua ikan beda jenis dan habitat, ayam goreng yang warnanya agak kuning, sambal, dan pernak-perniknya.

Saung Nisya yang dimaksud adalah sebuah saung tanpa sekat yang terletak di dekat sebuah teluk (atau muara? entahlah). Medan yang harus kami tempuh untuk sampai ke sana bisa dibilang lumayan sulit, apalagi dengan tanah merah yang licin dan miring. Tapi untungnya semua makanan bisa selamat sampai tujuan, begitu juga pembawanya.

Dan kejadian berikutnya bisa dijelaskan dalam foto ini (terima kasih untuk pacarnya Upeh karena mau jadi tukang foto-foto)


Setelah itu, kami pergi ke pantai Cipatujah.


Dan aku ucapkan banyak terima kasih untuk Ojul dan motornya karena telah berbagi denganku (Termasuk berbagi batu dan sampah dari orang yang sedang menyapu di pinggir jalan :)

4 komentar:

  1. Jhahaha , kayak yang rame ni, sayang dulu gak ikut. Chiye.. part 1 dan 2 thanks wae ke si ojul euy.. hehehe

    BalasHapus
  2. @Yuda: Ahahaha, musti say thanks dong ke si Ojul, kan numpangnya ga bayar :P

    BalasHapus
  3. @Anii3: Ah padahal mah bayar ih, kasian dia udah jadi ojeg PP tasik-cipatujah.. jhahaha :becanda

    BalasHapus
  4. minal aidzin wal faidzin...ma'af lahir batin........

    Banyak kata,perilaku serta tulisan yang sudah pernah saya lakukan....Ikhlas dari hati mohon di bukakan pintu silaturohmi....

    BalasHapus