Exfector ke Cipatujah (part 1)

Pada hari Senin tanggal 9 Agustus 2010, Exfector—sebutan bagi anak-anak kelas IA 5 Smandatas—telah sukses mengadakan perjalanan ke Cipatujah dalam rangka munggahan (makan bersama sebelum bulan Ramadhan). Sebuah perjalanan yang menyenangkan dan melelahkan!

Dimulai dari teras sebuah toko yang belum buka pada jam setengah delapan. Di sana sudah ada Yanti, Maya, Nisya, Dede (ini cewek ya), Annisa, Ambar, Ulfah (panggil dia Upeh) dan pacarnya, Yudha (panggil saja Babay), Tantan, dan Dian (ini cowok lho). Aku turun dari angkot dan menemui mereka yang sedang sibuk menghubungi exfector lainnya. Karena aku tidak punya pulsa, jadi aku hanya bisa membantu dengan diam :)

Waktu terus berjalan, Arie (panggil saja Ojul; kenapa? aku juga tidak tahu) dan Milda datang. Jadi sekarang kami punya 7 pengendara motor, yaitu Yanti (dia pakai motor sport lho), Nisya, Yudha, Tantan, Dian, Ojul, dan pacarnya Upeh. Yanti dengan Milda, Nisya dengan Annisa, Tantan dengan Dede (censored*), Upeh dengan pacarnya, dan sisanya tidak diketahui.

Aku harus mulai mencari orang yang bisa aku tebengin. Dimulai dari Dian,

Dian: "Kemarin teh motorna kecelakaan eum, paur..."
Babay: Jangan deh! (dari hatiku yang terdalam)
Ojul: Okelah. Anak guru tidak akan melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, kan? (iya kan?)

dan akhirnya—entah dengan terpaksa atau tidak—aku bersama dengan Ojul.

Sebenarnya ini membuat posisiku agak tidak mengenakan, censored*, tapi karena mereka terlihat tidak keberatan, okelah, karena yang terpenting—dan terbaik—adalah  Ojul tidak meminta uang bensin dariku.

Kau anggap aku curang? ini hanyalah faktor "keberuntungan". Thanks Ojul ;)

Kemudian Heryanti (panggil dia Detut) adalah exfector yang datang terakhir, dan hasil koordinasi singkat—yang tidak aku mengerti—mengatakan bahwa dia akan bersama dengan Babay, sementara Maya yang tadinya bersama dengan Babay menjadi bersama dengan Dian. Oke, semua sudah punya tebengannya pasangannya masing-masing, jadi kami berangkat pukul setengah sepuluh pagi. Tentunya setelah acara berdoa bersama yang dipimpin oleh Tantan.

Perjalanan ini cukup terasa bagiku. Duduk selama lebih dari 2 jam di atas motor bukanlah kebiasaanku, apalagi dalam keadaan dibonceng oleh seorang cowok—yang sebenarnya biasa saja, tapi kagok juga sih. Apalagi skoliosis ini tidak mau berkompromi dan membuat punggungku pegal.

Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan diam dan memperhatikan keindahan alam yang warnanya hijau-hijau itu, karena aku tidak tahu harus membicarakan apa dengan Ojul. Paling-paling interaksi yang aku lakukan dengan Ojul hanyalah "An, pegangin hape sebentar" atau "Pegangin dulu helmnya...", dan selebihnya bukanlah hal yang penting.

Seperti yang kita tahu, 2 jam lebih beberapa menit kemudian, kami sampai di persinggahan pertama yaitu saung Nisya. Sebuah rumah bambu yang tidak jauh dari jalan raya dan masih bisa sepi, merupakan tempat yang tepat untuk berteduh dan beristirahat, dan memang itu yang akan kami lakukan.

Tapi sebelum bisa menikmati nyamannya rumah bambu itu, kami harus berusaha melewati sebuah gang selebar 2 meter lebih dengan batu-batu tidak normal berwarna hijau yang bersaturasi rendah dan lumpur berwarna cokelat yang lengket. Tiba-tiba Ojul memberikan helmnya kepadaku,

"Mau kemana?" tanyaku.

"Ke mesjid." jawabnya singkat, kemudian langsung pergi.

Dan aku juga langsung pergi.

Aneh.

Satu persatu pemilik motor mulai menggiring motornya melalui gang itu dengan hati-hati, sementara sisanya—yang artinya termasuk aku—berjalan melalui pinggir gang yang tidak terlalu berlumpur. Tidak butuh waktu lama bagi para "sisanya" untuk bisa sampai ke rumah bambu Nisya, tapi tidak demikian halnya bagi para pemilik motor, karena mereka harus bersusah payah melawan lumpur cokelat lengket itu, meskipun pada akhirnya semua bisa sampai ke rumah bambu Nisya.

To be continued...

*Disensor karena yang dibicarakan (Dede) tidak mau diekspos (ehm-ehm).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar