Become Sherlock Holmes

Hidupku sekarang seperti berada di Inggris di awal abad 20. Tidak jauh dari 1902 ke atas dan ke bawah. Aku, pikiranku, dan perasaanku seperti diputar-putar oleh tokoh Sherlock Holmes ini, mungkin rasanya sama dengan Watson. Di mulai dari kematian Holmes yang mendadak di akhir cerita membuatku benar-benar terguncang. Tapi aku hidup di awal abad 21 dan tidak perlu bantuan peramal untuk tahu bahwa Sir Arthur Conan Doyle menghidupkan kembali tokoh ini dengan cara yang tidak memerlukan pemikiran supranatural.

Aku senang dalam hati, dan sekarang aku sudah menyelesaikan buku kelima dari tujuh buku elektronik Sherlock Holmes yang aku download secara gratis itu. Sepertinya aku tidak akan mendapat masalah hukum karena aku hidup lebih dari 50 tahun setelah Conan Doyle dimana saat itu hak ciptanya sudah tidak berlaku. Tapi aku tetap merasa jahat terhadap penerjemahnya yang membantuku agar aku tidak berpusing-pusing membaca versi aslinya yang berbahasa Inggris. Tapi kalau filmnya, itu lain lagi masalahnya, aku masih tetap mencari bajakannya dimanapun aku bisa mencari.

Aku ingin sekali bisa belajar dari Holmes, setidaknya tentang mengenal orang dari barangnya dan tentang membaca pikirannya saja. Tapi aku bahkan tidak bisa menebak kepribadian seseorang yang telah teledor menaruh pensilnya sembarangan di dalam kelas.

Pensil itu pensil 2B biru yang aku lupa merknya—mungkin Staedler, yang paling umum dipakai untuk LJK sebelum pensil 2B Faber Castle merajai pelajar Indonesia, dan yang ini asli. Kalau diartikan berarti pemiliknya bukan seperti orang kebanyakan, agak kolot tentang merk. Arti lain, mungkin orang lain yang kolot dan tidak tahu menahu tentang pelajar—mungkin ibunya—yang membelikannya, atau membeli pensil itu hanya secara kebetulan saja. Arti berikutnya jika arti sebelumnya yang pertama benar, dia adalah pelajar yang cukup tahu, karena aku sering menemukan beberapa orang masih terkecoh dengan membeli pensil 2B palsu, sedangkan miliknya asli. Ada dua bekas penjepit rautan modern model putar, tapi saat ditemukan ujung pensil itu seperti diraut dengan rautan modern konvensional—bisa dilihat dari ujungnya, rautan model putar menghasilkan ujung yang lebih runcing dibandingkan dengan hasil rautan konvensional—dan yang pastinya rautan itu sudah agak tumpul karena hasilnya berantakan. Artinya mungkin pemiliki pensil ini cukup kaya untuk membeli rautan modern model putar, dan dia bukan orang yang rajin belajar di rumahnya, karena kalau dia merautnya dengan rautan lain—mungkin rautan temannya, yang berarti diraut di sekolah—berarti dia jarang memakainya di rumah. fakta cadangan, mungkin dia lebih suka memakai pulpen atau itu dipakainya sebagai pensil cadangan. Dan pensil yang masih cukup mulus dan panjang membuatku yakin kalau pensil ini jarang digunakan. Selebihnya hanya ada goresan-goresan kecil yang sepertinya dihasilkan karena tergesek oleh benda lain atau karena memang karena benda itu aku temukan begitu saja. Tapi yang jelas pemiliknya adalah orang yang ceroboh karena menghilangkan pensilnya begitu saja.

Jika Holmes benar-benar nyata dan ada saat ini, dia pasti tertawa melihat deduksiku yang kacau balau.

Tapi sebenarnya ciri-ciri yang aku temukan itu tidak akan mengarahkanku ke mana pun, karena setiap hari aku pasti mendengar alat tulis hilang dari setiap murid di kelas dan mereka menganggapnya hal yang wajar. Jadi aku anggap pengamatanku terhadap barang orang telah gagal.

Kemudian aku mencoba menebak apa yang dipikirkan seseorang. Meski sebenarnya aku bisa dengan mudah tahu apa yang dipikirkannya melalui statusnya di Facebook, tapi akan sangat menyenangkan jika bisa tahu langsung saat kejadian tanpa menunggu dia mengungkapkannya lewat facebook.

Pertama aku melihat Kharisma yang lebih banyak diam dan setengah melamun. Sebenarnya dia hanya tertawa kalau mendengar yang lucu dan menjawab jika ditanya, pasif. Kemudian aku melihatnya menunduk dan meletakan kepalanya di meja dengan ditopang tangannya dan wajah menghadap ke meja. Sial! Apa yang dia pikirkan? Sambil memperhatikan meja. Tidak, aku yakin dia tidak memperhatikan tulisan di meja karena tidak memenuhi jarak minimal fokus dan bidang yang dia amati sangat gelap karena ditutupi bayangannya sendiri, berarti dia sedang memikirkan hal lain, yang kalau dilihat dari matanya yang tidak begitu konsentrasi, mungkin sedang memikirkan keinginannya saja. Kemudian dia mengamati pintu, atau mungkin siswi-siswi penggosip yang ada di depan pintu yang terbuka lebar itu. Mungkin dia memikirkan untuk segera pulang. Lalu pandangannya ke arah papan tulis, yang terdapat tulisan selamat ulang tahun untuknya. Itu membuatku yakin kalau Kharisma memang sedang berpikir untuk cepat pulang karena ini adalah hari ulang tahunnya. Lalu dia mengamati sekitar sebentar, sebelum akhirnya dia menyembunyikan wajahnya seperti posisi awal.

Deduksi yang ini pasti membuat Holmes geleng-geleng kepala karena gemas melihat banyak kesalahan yang aku lakukan padahal menurutnya faktanya cukup jelas. Baiklah, yang ini juga gagal.

Sebenarnya yang aku lakukan sekarang adalah menghindari menyelesaikan hasil karyaku untuk lomba itu, yang memang selalu aku lakukan. Aku tahu bahwa salah menunda suatu pekerjaan, tapi aku sangat tertekan dengan semua ini dan ingin melakukan hal lain saja, mungkin seperti mengedit foto sendiri, membaca buku Sherlock Holmes, atau menulis ‘About Me’.

4 komentar:

  1. Wah, kyknya maw jd detektif nih? :)

    BalasHapus
  2. @Pejalan kaki: hehehe, ga juga sih. Tapi emang dari dulu suka main detektif-detektifan... :D

    BalasHapus
  3. mbak tamplatenya keren bikin sendiri ya, gimana caranya?

    BalasHapus