Yang Jujur Tentang Orang-orang Lurus

Bukan hanya "jujur" yang dibutuhkan.

Aku sudah berusaha untuk jujur, tapi ternyata itu saja tidak cukup. Saat aku pikir dia akan mengerti saat aku tulis beberapa posting di blog tentangnya, ternyata aku salah. Mungkin dia bahkan tidak membacanya sama sekali karena tidak memperhatikan. Betapa besarnya dunia maya, karena memang wujud abstrak dari dunia nyata.

Aku jujur pada blogku, hanya saja penyampaiannya yang sulit. Maksudku aku membencinya, tetapi mengaguminya. Butuh lebih dari kamus bahasa Indonesia 500 halaman untuk bisa menjelaskannya. Bahasa lisan tidak bisa menggambarkan hati secara keseluruhan.

Di atas adalah salah satu tulisan dalam notes Facebook. Seperti biasa penuh dengan kata-kata samar supaya tidak banyak yang bisa melacak.

Dalam catatan ini aku membicarakan tentang "orang-orang lurus". Kurang lebih aku menulis seperti ini

Dalam teori, seharusnya selain jujur, kita juga harus terbuka. Maksudnya jelaskan siapa yang dimaksud. Apa gunanya jujur jika orang-orang tidak mengerti apa maksud kita.

Memang sekarang aku sudah tidak begitu memikirkannya, tapi terkadang, sekilas, tetap saja aku memikirkannya. Memikirkan orang-orang lurus ini, sulit sekali untuk terbuka.

Aku juga tidak bisa terbuka tentang siapa saja anggota dari "orang-orang lurus" yang aku bicarakan.

Aku akan menjelaskan dulu apa maksudnya aku memanggil orang-orang ini dengan sebutan orang-orang lurus.

Pertama, mereka kebanyakan kurus. Tapi kalau dibilang kurus, rasanya terlalu kasar. Seperti lelucon yang katanya "Kenapa susu untuk orang tua diberi nama GOLD? karena kalau OLD terlalu kasar, jadi ditambah G", Jadi aku sebut lurus saja.

Kedua, mereka itu memiliki satu kesamaan, yaitu orang-orang yang sulit aku tolak. Bukan tidak bisa, tapi sulit saja. Beberapa diantaranya malah merupakan orang yang pernah aku cinta—yang sayangnya tidak sebaliknya.

Oke, sekarang aku akan tuliskan, mulai dari yang paling pertama aku kenal. Ditambah rating kekurusannya, *|* untuk cukup kurus, *||* untuk kurus, dan *|||* untuk standar. Bukan maksudnya menghina, tapi... entahlah.

Dhika Mahardhika *||*
Kalau jujur tidak perlu tanggung-tanggung. Dia sosok manusia langka jadi-jadian yang katanya bisa melihat jin dan kegaiban. Aku suka dia karena pemikirannya, dan hidupnya. Tapi terkadang saat dia mengerjaiku, aku bisa berharap dia kejatuhan besi untuk menempa dengan berat 100kg.

Kharisma Anarchi M S *|||*
Ya, dia itu pendiam. Memang sekarang dia sudah ada yang punya dan biar saja. Tapi sepertinya sulit sekali menemukan sosok religius seperti dia—dan juga lugu, mungkin. Tapi kalau dia sudah diam seperti patung, aku ingin sekali membuatnya tertawa dengan cara apapun!

Abdul Wahid *|*
Manusia ini, sebenarnya adalah kakak kelas. Sudah sering aku singgung tentangnya dalam postingan. Ya aku tidak benci sepenuhnya, tapi tidak juga suka sepenuhnya. Aku suka caranya dalam mendapatkan apa yang diinginkannya, dan juga rajin. Tapi kalau aku sudah merasa dimanfaatkan olehnya, aku ingin meninjunya dengan sangat keras, BUM!!!

Dian Wiraadiguna *|*
Kenapa orang ini ada di sini? aku juga tidak tahu. Yang aku suka dari dia hanya pintar menghitung dan berargumentasi (biar bisa sebanding sama aku :D). Padahal faktanya dia itu sekelas denganku, sedang dekat dengan teman di kelas yang namanya Eki, dan juga punya pacar. Ah pokoknya orang ini aneh! buktinya dengan berbagai fakta itu dia bisa bilang "mau jadi pacar aku ga?". Memang saat itu aku tahu dia hanya bercanda—semoga saja >_<—tapi kan aneh! Saat itu aku benar-benar ingin menginjaknya sampai rata...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar