Kelakuan si Anni3 Garong

Sebenarnya sih tidak banyak yang 'garong', ya sekedar menyesuaikan dengan lagu kucing garong, hehehe... Lagipula ini mungkin tidak begitu penting, tapi tidak ada salahnya aku menulisnya di sini (ini kan blog aku). Aku akan menulis tentang apa yang dilakukan Anita Kartini atau Anni3 beberapa hari ini.

Minggu, 20 Desember 2009

Di hari ini, aku mengikuti jalan santai yang diadakan oleh sekolah. Masih dalam rangka memperingati ulang tahun SMA Negeri 2 Tasikmalaya yang ke-42.

Setelah jalan santai yang cukup melelahkan, ada pengundian kupon—yang diberikan sebelum jalan santai—untuk memenangkan berbagai hadiah mulai dari jaket, lampu belajar, termos, bla-bla, sampai hadiah utama yang 'wah' yaitu TV 14 inch, satu set komputer, TV 21 inch, dan satu motor. Untungnya tidak ada hadiah pakaian dalam wanita dan bantal lagi seperti tahun kemarin.

Tapi sebelum itu kami diperbolehkan beristirahat di gerbang belakang dekat ambalan pramuka. Aku mengambil tempat duduk di luar ambalan pramuka, kemudian mengeluarkan laptopku dan mulai online di dunia maya setelah membeli jus tomat di Mang Okim. Tiba-tiba Dededodo berkata "adeuuuu...", awalnya aku agak bingung karena yang aku tahu biasanya mereka berkata seperti itu saat Aa Doel berada di dekatku. Dan tiba-tiba saja di belakangku ada yang berkata "Ani OeL aja...". Suaranya itu, sepertinya aku kenal. Saat aku melirik ke belakang dengan hati-hati, ternyata itu memang dia, Aa Doel, ternyata ini penyebabnya. Aku tersenyum dan menjawab beberapa pertanyaannya tentang lomba-lomba di UPI yang rencananya akan aku, Aa Doel, dan beberapa manusia komputer lainnya ikuti. Lalu guru-dengan micnya-menyuruh murid-murid memasuki aula untuk melanjutkan acara.

Hal pertama yang menjadi pusat perhatian adalah demonstrasi grafiti dengan cat semprot. Aku tidak bisa melewatkan hal ini, apalagi mereka banyak menggunakan warna ungu. Aku baru tahu kalau selain membutuhkan banyak persediaan warna, seorang grafitis harus mempunyai banyak jenis semprotannya. Ada yang untuk dasar, outline, dan fillnya juga.

Tentang kupon itu, aku mendapatkan kupon bernomor 0 1229. Aku pikir itu bukan nomor cantik, dan juga bukan nomor keberuntungan karena aku tidak bisa membawa satu pun hadiah yang berteger di depan panggung dengan nomor ini. Nomor yang biasanya keluar adalah nomor yang dengan komposisi 0 0ABA, dimana A dan B adalah angka yang berbeda, semisal 0 0878, 0 0676, dan lain-lain. Si Detut malah membuat posting tentang kupon bernomor 0 1234 miliknya yang ternyata juga belum beruntung.

Aku memang tidak mendapatkan satu pun hadiah, tapi aku cukup puas saat mengundang banyak perhatian dengan berisik saat penyebutan angka bersama beberapa Exfector (sebutan untuk anak-anak XI IA-5) ditambah beberapa orang seperti Icha ndut.

Lalu yang menjadi perhatianku adalah mereka anak-anak pramuka yang menggelar tikar di tengah-tengah aula tempat acara berlangsung. Actually, just him, you know who? he's Abdul Wahid, you remembers him? Aa Doel atuh! Nu titatadi diomongkeun. Geus trilingual yeuh!.

Saat itu dia berada di belakang Rangga, teman sekelasku yang gendut. Aku tidak yakin dia akan terlihat dari depan karena terhalang Rangga. Terkadang saat tatapan bertemu, aku hanya tersenyum kepadanya. di satu sisi pikiranku menolak untuk senang karena pengalaman-pengalaman bersamanya kemarin membuatku cukup kesulitan, tapi yang menyebalkan hatiku malah bahagia. Ini yang aku sebut membagi diriku menjadi beberapa bagian, agar saat ada konflik seperti ini aku tidak salah langkah.

Senin, 21 Desember 2009

Hari ini aku sibuk mempersiapkan computer games berbasis flash untuk pameran ekstrakurikuler dan program unggulan (PU) besok. Aku harus membuat games ini sebagus mungkin, karena hanya aku satu-satunya anak PU Desain Grafis kelas XI yang bersedia mengumpulkan hasil karya flash. Sementara aku agak kecewa dengan yang lainnya karena tidak ada yang berniat membuat 'sesuatu' untuk PU ini. Karena ini juga, aku harus rela meninggalkan Journalist dan Teater untuk sementara waktu.

Sebenarnya games itu termasuk dalam programming, tapi karena anak-anak programming sendiri belum sampai dalam tahap pembuatan games, dan kebetulan desain grafis kelas XI sedang mempelajari flash, jadi tidak ada salahnya dengan otakku yang sedikit aku mencoba membuat 2 games jadi-jadian yaitu puzzle dan bola petualangan untuk dipajang.

Terima kasih untuk Mike Kantor di situs http://www.sitepoint.com/ untuk tutorial membuat puzzlenya dan Emanuele Feronato di situsnya http://www.emanueleferonato.com/ untuk berbagai tutorial tentang bola-bola flashnya yang keren.

Dari pagi aku sudah gentayangan di labkom, tentu saja agar bisa mendapatkan sinyal WiFi yang lebih kuat dan yang pastinya listrik gratis. Lagipula di kelas sedang ada beberapa orang yang sedang pacaran dan aku tidak ingin bersama mereka dalam satu kelas.

Jam Pagi setengah Siang, sekolah sudah terasa sangat sepi. Sesekali ada beberapa orang yang ke labkom untuk mencetak beberapa tulisan untuk eskul dan PU-nya masing-masing. Tiba-tiba dalam kegiatan yang dibilang Pak Ofiq melamun—padahal aku sedang mengedit beberapa script—manusia ini datang lagi ke kehidupanku, Aa Doel sudah ada di depan pintu labkom.

Aku heran, apa Allah sengaja selalu mempertemukan aku dengannya, atau aku yang selalu ingin menemuinya. Tapi yang sekarang terjadi mungkin adalah opsi pertama, atau mungkin ada opsi ketiga dimana Aa Doel memang sengaja melakukannya untuk alasan tertentu? aku tidak tahu.

Kembali ke dunia nyata, dia masuk sebentar untuk melihat-lihat, kemudian berkata kepadaku tentang betapa sepinya labkom dan mengajukan beberapa pertanyaan sehari-hari. Kemudian dia ikut berWiFi ria dengan laptopnya yang kalau tidak salah merupakan hadiah dari lomba Generasi Wangi Relaxa tahun 2009.

Aku kembali tenggelam dalam logika-logika actionscript, membaca dan mengutak-atiknya seperti zat adiktif yang awalnya memusingkan tapi membawa sensasi menyenangkan. Aku bisa melupakan dunia tempatku berpijak beserta masalah-masalahnya dengan mudah dan masuk dalam dimensi biner 0 dan 1, true dan false, yang ditampilkan dalam 60 ribu piksel berbagai warna di bidang datar yang sering dipanggil layar monitor.

Tiba-tiba dalam pelarianku dari dunia nyata, Aa Doel sudah ada di belakangku dan membuyarkan konsentrasiku. Aku merasa dia sedang memperhatikan layar laptopku dan aku biarkan saja. Sepertinya dia tertarik dengan aplikasi Digsby yang sedang aku pakai untuk online di berbagai situs jejaring sosial dan penyedia komunikasi teks. Dia meminta file mentahnya dan aku berikan agar dia senang. Setelah itu dia pergi karena katanya baterai laptopnya sudah habis.

Aku bergentayangan di labkom sampai jam 5 sore.

Selasa, 22 Desember 2009

Inilah hari pertama pameran. Pameran ini diadakan di aula setengah jadi-karena masih berupa rangka dan atap saja-yang terletak di dekat gerbang belakang SMANDA. di ujung aula terdapat panggung dengan berbagai macam alat dan juga piala-piala. Kemudian terdapat ratusan kursi untuk penonton di depan panggung, mirip seperti saat di Mayasari Plaza tapi tanpa kain penutup. Dan stan dari peserta pameran berada di pinggir-pinggir aula mengelilingi kursi penonton.

Stan desain grafis digabung dengan programming dan eskul CLIC (ekstrakurikuler yang berkecimpung dalam dunia komputer) dalam satu lingkup bernama ICT. Ada 3 komputer yang disediakan, 1 untuk mencetak dan sisanya untuk demo. Aku segera mencetak gambar hasil photoshopku dan mulai mempersiapkan games itu di salah satu komputer untuk demo, sementara anak programming membuat semacam Guestbook—yang sayangnya tidak bisa menyimpan pesan yang telah ditulis karena mereka belum mempersiapkan databasenya—dan juga kalkulator yang masih acak-acakan karena belum bisa menghitung dengan benar, seperti kalkulator flash milikku yang gagal total.

Aku senang karena ternyata games milikku mampu menarik banyak perhatian dari pengunjung pameran. Mungkin posisi games milikku di stan ICT sama seperti bom air di stan PU Fisika, banjir artikel di stan eskul Journalist 261, undian berhadiah di stan eskul Kopsis (semacam koprasi di sekolah), atau bahkan es krim Walls yang dijual di stan PU Astronomi.

Aku sadar bahwa mungkin aku satu-satunya wanita yang aktif dalam stan ini, dan aku tidak peduli. Selama ini wanita-wanita itu mengeluh bahwa mereka sebenarnya ingin menjadi bagian di sini, tapi mereka malu karena kebanyakan adalah laki-laki. Mungkin mereka benar, hanya saja ini bukan tempat untuk pikiran kolot, meski kesetaraan gender itu juga tidak bisa 100%. Tapi setidaknya di sini kau akan dilihat sesuai niat dan kemampuanmu.

Di hari ini ada ceramah dari ustadz Jujun yang tidak aku tahu asal-usulnya. Dia membahas tentang merayakan ulang tahun, tentang hari ibu, dan hal-hal lain yang tidak aku catat. Cara penyampaiannya penuh dengan sindiran dan kata-kata yang bisa membuat pendengarnya tersenyum, tertawa, dan merenung dalam sekejap. Baiklah, sepertinya dia berusaha membersihkan SMANDA dari kesesatan. Setelah itu kami harus mengumpulkan ringkasan dari ceramah itu dan mengumpulkannya untuk kebaikan nilai mata pelajaran agama.

Setelah itu kami kembali sibuk dengan stan masing-masing. Sesekali aku melihat Aa Doel mampir dan berdiam di stan Pramuka yang kebetulan bersebelahan dengan stan ICT. Perlu diketahui dia itu anggota eskul Pramuka. Sekali aku menggodanya dengan berkata "Ehm, OeL mulu nih!".

Acara selesai pukul 1 siang dan aku ditugaskan untuk menjaga stan ICT sampai jam 4 sore untuk pengamanan karena akan sangat merepotkan jika harus memindahkan komputer-komputer ini ke lab.komputer kemudian memindahkannya kembali ke aula.

Satu per satu orang-orang pergi, sampai aku sendirian di stan ICT. Aku masih online dengan laptopku sambil melihat aula yang sekarang sudah sepi, sudah jam 2 siang. Tiba-tiba terdapat tetesan air di layar laptopku, hujan datang dan aku lupa kalau aula ini masih berupa rangka. Angin membuat stan sebelah utara termasuk stan ICT mendapatkan hujan lebat.

Tidak ada hal lain yang aku pikirkan selain berusaha menyelamatkan komputer-komputer ini. Satu per satu aku memindahkan bagian-bagiannya, mulai dari layar yang LCD, lalu CPU, printer, keyboard, mouse, hasil karya, sampai UPS yang beratnya luar biasa dalam tubuhnya yang kecil. Untungnya aku dibantu oleh beberapa orang yang masih ada di aula dan Om Iwan satpam sekolah.

Aku langsung menutup laptopku dan menutupinya dengan tasku sementara aku memindahkan komputer-komputer ini ke bagian depan aula dekat benda kotak besar tempat orang mengatur sound. Setelah aku yakin semuanya telah dipindahkan, aku memindahkan laptopku ke tempat aman.

Aku membersihkan laptopku dengan sedih, cover laptopnya tergores karena terkena bagian tas dan layarnya agak basah. Baru saja aku dipercayakan benda ini oleh papaku, aku sudah mengacau, meski ini bukan salahku 100%. Kemudian aku melihat jam tangan baru berwarna ungu pemberian mamaku, bagian dalamnya mengembun dan talinya lepas. Aku kesal dan ingin marah tapi tidak aku lakukan karena itu hanya membuang tenaga saja.

Pak Ade—salah satu guru komputer yang juga guru desain grafisku—datang dan melihat keadaan, setelah itu dia seperti sedang membuat keputusan penting. Aku benar, Pak Ade berkata besok ICT tidak akan ikut pameran lagi karena terlalu beresiko. Aku sangat kecewa, bagaimana mungkin bisa berakhir? Aku sudah mempersiapkan games ini beberapa minggu terakhir dan semua sudah berakhir? Tapi aku lihat lagi keadaan stan yang basah dan sangat berantakan, juga komputer-komputer basah yang belum tentu bisa menyala lagi. Kali ini aku hanya bisa pasrah. Pak Ade bilang akan memindahkan komputernya setelah hujan berhenti, aku mengangguk, kemudian dia pergi.

Setelah membersihkan laptopku, aku menaruhnya dalam tas laptopnya, kemudian tas laptopnya aku masukkan ke dalam tas ranselku. Aku kira aku sudah aman, tiba-tiba aku merasakan arah angin berubah, angin yang sangat besar, dan membawa hujan ke arah barat, hujan datang dari depan aula.

Aku terpana dengan hujan ini. Jika biasanya hujan datang dari atas, maka kali ini aku merasakan hujan datang dari arah depanku, horisontal. Air hujan yang lebih kecil dari biasanya tapi lebih banyak, menabrak tubuhku seperti ribuan jarum. Aku jadi merasa seperti model biksu di sampul film 2012.

Saat aku sadar beberapa detik kemudian, aku segera memindahkan komputer-komputer ini ke tengah aula. Pada awalnya komputer-komputer ini memang aman dari air, tapi hujan semakin membesar dan sekarang hujan menjangkau lebih dari setengah aula. Sekarang bukan hanya stan sebelah utara yang basah, tapi juga stan sebelah selatan juga, termasuk stan Journalist 261 dan Dekressi. Aku berusaha mengamankan komputer-komputer ini dengan mengumpulkannya di satu tempat kemudian ditutupi dengan gabus. Aku sangat berharap gabus-gabus ini bisa melindunginya dari air.

Lalu aku mulai memasukkan foto-foto pajangan stan Dekressi ke kolong meja (dan juga mengambil beberapa permen di atas mejanya karena aku sudah sangat lapar). Tapi aku tidak bisa menyelamatkan artikel di stan jurnalis karena backgroundnya diikat ke kain pembatas dengan kuat, sedangkan artikel yang ditempel sangat banyak dan aku tidak bisa mencabutnya satu per satu apalagi dalam keadaan basah. Aku juga harus pasrah melihat ilustrasi 3D jendela 261 buatanku basah dan yang pasti tidak bisa dipakai lagi. Dengan berat hati aku memberitahu ke beberapa anak jurnalis tentang hal ini melalui sms.

Hujan sudah mulai reda meski masih ada. Carida—temanku di jurnalis—datang dan membereskan stan jurnalis, sementara aku mengeringkan komputer-komputer ini dengan tisu yang aku temukan tergeletak begitu saja. Setelah semuanya selesai, aku bergabung dengan Carida, Om Iwan, dan seseorang laki-laki dari PU Astronomi yang bertugas menjaga mesin pendingin es krim itu agar tetap menyala dengan suhu di bawah -20°C, kalau tidak salah.

Kami berbincang sebentar, atau dalam kata lain mendengarkan Om Iwan mendongeng. Kemudian Carida pulang dan meninggalkan kami bertiga. Aku melihat-lihat aula dan ternyata hujan sudah menggapai 60% aula, bisa aku lihat dari tanah yang basah.

Ternyata hujan tidak menyerah begitu saja. Kali ini hujan datang lagi dengan kapasitas yang lebih besar. Sekarang di dalam aula terdapat butiran-butiran air melayang di udara dengan efek slow motion ditambah angin yang semakin kuat dan petir yang terus menerus mengagetkanku. Angin kali ini bahkan menerbangkan gabus penutup komputernya. Kali ini aku membuat barikade dari kursi dan mengikat gabus itu di kursi yang lain. Intinya agar komputer-komputer ini tidak terkena lebih banyak air.

Setelah aku rasa sudah cukup, aku menuju ke kursi terdepan dekat panggung tempat Om Iwan dan orang itu. Om Iwan bercerita banyak sekali, mulai dari pengalamannya memasuki dunia hiburan malam atau diskotik, lalu pergi ke tempat-tempat jauh, dan pengalaman nyentrik dengan murid-murid SMANDA. Diceritakan juga tentang banyak uang yang ditemukannya dan dia taruh di lubang ventilasi posnya.

Sementara aku mendengarkan. Tanganku menggapai satu ikat buah rambutan yang tergeletak begitu saja di meja. Awalnya aku hanya memakan satu buah, tapi keterusan sampai buah rambutannya habis. Tapi untungnya aku masih membuang sampah pada tempatnya :D

Meski begitu, aku tetap lapar. Aku belum makan siang dan sekarang sudah hampir jam 4. Aku berharap ada seseorang yang menggantikanku karena aku sudah lelah dan lapar. kilatan ungu menghiasi langit dan suara petir semakin keras. Sampai tiba-tiba terlihat kilatan listrik biru disertai suara ledakan yang sangat keras, diikuti suara petir yang menggelegar, dan membuat lampu mati satu persatu. Listrik mati.

Pertama kalinya aku melihat listrik yang seperti itu, listrik biru yang keren sekaligus menakutkan, sulit sekali menggambarkannya secara terperinci. Om Iwan berkata sepertinya karena arus pendek listrik. Aku tidak begitu yakin dimana asalnya karena cahaya tadi benar-benar besar. Tapi sepertinya dua orang di depanku yakin kalau itu berasal dari tiang telepon[?] di depan ambalan pramuka.

Kami memandang satu sama lain, dan aku berharap hujan ini bisa cepat berhenti, atau setidaknya ada seseorang yang bisa menggantikanku. Tiba-tiba datang kilatan lain, aku melihat Om Iwan langsung bersembunyi di balik kursi sambil sujud, kemudian suara petir yang lebih menggelegar datang menggetarkan kaca-kaca kelas.

Listrik kembali menyala. Aku bisa melihat mesin pendingin es krim itu mulai dari suhu -15°C dan terus meningkat. Tapi beberapa menit kemudian listrik kembali mati. Aku menduga kali ini pasti akan lebih lama.

Pak Umar—salah satu guru fisika—datang dengan membawa gabus yang masih terlindungi plastik dan melihat-lihat keadaan aula yang sudah berantakan. Kemudian kami mengobrol sebentar sampai sekitar jam setengah lima, listrik kembali menyala dan hujan hampir berhenti.

Beberapa orang datang untuk mengambil barang-barang pajangan stan eskulnya, tapi aku tidak melihat satu pun orang dari ICT. Sebenarnya aku tidak ingin merepotkan Pak Ade, tapi aku sudah lelah, jadi aku mengirim sms kepadanya agar dia datang.

Pak Ade datang beberapa menit kemudian. Aku dengan bantuan orang dari PU Astronomi itu membawa beberapa barang ke labkom. Aku membawa semua keyboard dan mouse juga satu UPS, Om Iwan membawa 2 CPU, dan orang itu membawa 2 UPS dan satu monitor. Karena sudah terlalu lelah, aku langsung pulang, saat itu sudah lebih dari jam 5 sore.

Sesampainya di rumah, aku langsung makan, shalat, kemudian tidur. Aku bahkan lupa kalau aku takut tidur malam, dan untungnya mimpi buruk itu tidak datang.

Rabu, 23 Desember 2009

Aku datang ke sekolah jam 9 pagi karena aku kira stan ICT tidak akan ada lagi. Tapi ternyata stan ICT dan yang lainnya tetap ada. Hanya saja sekarang komputernya ada dua.

Pada awalnya aku memutuskan untuk 'ngambek' dengan Ali, ketua eskul CLIC yang kemarin katanya akan datang jam 4 sore tapi nyatanya jam 5 sore juga dia belum datang. Tapi pada akhirnya aku bisa membaur lagi.

Sekarang anak programming menjual PC games, mulai dari yang satuan CD sampai yang 2 DVD. Sebenarnya aku ingin beli, tapi berhubung aku tidak memiliki uang yang cukup banyak dan DVD reader[?] laptopku sedang rusak. Tapi aku masih bisa meminta beberapa games kecil untuk mengisi laptopku.

Gamesku mulai menarik cukup banyak pengunjung, meski sepertinya popularitasnya tergeser oleh praktek jual beli PC games. Itu aku anggap sebagai kesempatan untuk berjalan-jalan. Saat sepi pengunjung, atau ada orang yang terlalu asik dengan gamesku, aku pergi ke stan Kopsis untuk membeli makanan, aku bahkan sempat memakan telur puyuh di stan fisika yang sebenarnya diperuntukan untuk percobaan udara panas.

Sementara untuk pengisi acara, lebih banyak band-band beraliran rock yang memekakan telinga. Tapi ada satu yang menurutku berlawanan dengan acara kemarin, dancer girl. Dengan rok jeans mini, baju pink ketat, rompi setengah badan berwarna hitam, plus gerakan-gerakan yang 'wew'. Aku kira Ustadz Jujun sudah membersihkan seluruh SMANDA, ternyata ada yang terlewat, yaitu para dancer ini.

Di akhir acara, aku bertemu dengan Inot—temanku yang sudah kelas XII. Dia seenaknya saja menendang tasku padahal ada laptop di dalamnya, dan dia bilang "kalo rusak gue ganti". Memangnya semudah itu. Kemudian dia lewat lagi, dan aku paksa dia untuk memainkan gamesku. Dia sepertinya tidak percaya aku yang membuatnya. Ya kalau scriptnya sebagian berasal dari tutorial yang aku sebutkan di atas, tapi untuk desainnya berasal dariku. Aku juga memaksa beberapa temanku untuk mencoba games ini sebagai promosi. Kiko—temanku yang merupakan anggota OSIS sekbid 9 yang membawahi eskul CLIC, dan juga anak programming—malah berencana menaruh gamesku dalam website OSIS SMANDA.

Semua berjalan dengan cukup lancar, dan untungnya tidak ada hujan lagi seperti kemarin.

Kamis, 24 Desember 2009

Sebenarnya hari ini libur sekolah, tapi bukan Anita Kartini namanya kalau ada hari yang kosong. Pasti ada saja tugas yang harus aku kerjakan. Dan kali ini aku harus mengantar adikku yang bernama Achmad ke Pageurageung untuk wisata ilmiah di peternakan sapi dan pembagian rapot di KUD untuk susu dari peternakan sapi tadi. dua kata yang keluar dalam pikiranku, "Gaya sekali!", dengan bunyi yang sinis.

Satu hari lagi menjadi baby sitter.

Aku membawa beberapa makanan, dan 3 HP. satu adalah HPku, dua adalah HP Smart untuk internetan, dan 3 adalah HP Siemens untuk mengambil gambar. Bukannya aku boros atau sok, tapi karena HPku tidak ada internet maupun kamera, tapi aku butuh jika ada yang menghubungiku, kalau HP smart aku gunakan untuk berinternet di mobil karena aku yakin perjalanannya akan sangat panjang, sedangkan HP Siemens untuk mengambil gambar karena dua HP yang lain tidak memiliki kamera, sudah jelas?

Sudah bisa ditebak, perjalanan yang membosankan. aku coba membunuh kebosanan dengan berinternet dan sepertinya itu cukup berhasil. Aku mengomentari salah satu gambar dari unknowman itu dan dia membalas, kemudian aku balas, dia balas, aku balas, dia mulai menyudutkan aku dengan Aa Doel, aku mengelak, Aa Doel bertindak, dan gooooooollll!!! (kok jadi ke sepak bola? ah ga nyambung!)

Tidak terasa mobil sudah berhenti lagi, ternyata saatnya istirahat sejenak. Aku menurunkan adikku dengan hati-hati, kemudian aku kembali berinternet. Tapi tiba-tiba adikku mendorong tanganku dan membuat HP Smartnya jatuh...

KRAAKK...!!!

Kaca pelindung layarnya retak

Casingnya tergores

Oh my God! Masalah kembali datang.

Aku memperhatikan HPnya dengan seksama, casingnya tergores batu kecil tapi tajam dan sedikit menyerut plastiknya, sementara kaca pelindung layarnya mendapatkan retakan kecil yang berbentuk seperti huruf X, ini bencana.

Pertama, HP ini punya papa.

Kedua, HP ini berstatus dipinjam oleh Anita Kartini, jadi aku yang bertanggung jawab atas segala yang dialami oleh HP ini.

Ketiga, baru saja aku hampir merusak laptopku karena insiden pameran kemarin.

Dan banyak alasan-alasan lainnya yang mulai membuat aku panik. Untung saja HPnya masih bisa digunakan, jadi aku mulai mencari info melalui Facebook dan Plurk, semoga saja ada yang bisa memperbaiki hal ini.

Kami meneruskan perjalanan. Aku masih meneruskan kegiatan berinternet meskipun ya kau tahu. Kami melewati kawasan pegunungan yang jalannya naik, turun, berliku dan membuatku mual. Beberapa menit kemudian, atau beberapa jam menurutku, kami sampai di peternakan sapi.

Saat turun, hal pertama yang aku lihat adalah sapi, lalu sapi, sapi, dan sapi lagi.

Guru adikku menjelaskan tentang sapi secara dasar.

"Ini sapi, sapi warnanya hitam dan putih, sapi makan rumput, sapi menghasilkan daging, kulit, susu, bla-bla..."

Membosankan.

Adikku tidak menghiraukan orang-orang, dia melangkah kemana pun dia mau. Aku jadi agak kerepotan juga. Jangankan untuk mengambil gambarnya, menahannya agar tidak menginjak kotoran sapi pun sulit.

Setelah kenyataan buruk ini selesai, kami menuju ke KUD (Koprasi Unit Desa) untuk minum susu sapi dan pembagian rapot. Aku membeli lengko (semacam lontong atau ketupat yang dipotong dan dibaluri kuah daging) karena perutku sudah lapar sedangkan adikku meminum 2 gelas susu sapi gratis. Aku juga minum satu.

Lalu dimulailah pembagian rapot, aku jadi merasa semakin kolot. Tapi akhirnya kami bisa menyelesaikan semua ini dan pulang dengan selamat.

Jumat, 25 Desember 2009

Saat banyak orang merayakan natal, meniru si gendut santaklos, dan nyanyi Jinggobel-gobel, aku malah menghabiskan waktuku untuk menulis posting ini.

1 komentar:

  1. sdah jadi yah tempalte blognya ... upz sory asal masuk ajah aku , perkenalin nama aku l05t ....salam kenal yah

    BalasHapus