Jurus Casting dan Keberuntungan

Sekarang aku ingin menceritakan sesuatu yang aku alami tadi, saat dimana aku sangat menikmati teater, tidak seperti biasanya.

Saat aku terbebas dari pelajaran English dimana percintaan antar ayam saja diceritakan, lalu pelajaran pendidikan lingkungan hidup yang anak SD pun bisa, dan pelajaran agama yang jawabannya sudah ada dalam pembahasan singkat guru PPL beberapa hari sebelumnya, aku kira aku bisa langsung pulang, tapi ternyata tidak. Seseorang datang dengan tiba-tiba dan mengatakan sekarang kumpul teater di SMA Pasundan 2, dan bawa foto close up dan full body diri ukuran 4R.

Aku bertanya dalam hati, “Apa-apaan ini? Tiba-tiba menyuruhku membawa foto, fotoku itu eksklusif dan tidak akan aku berikan sembarangan. Dan untuk apa? Untuk diguna-guna? Atau untuk dipajang di sanggar? Siapa yang mau?” dan berbagai pertanyaan muncul dalam pikiranku.

Aku mulai sadar dari cheat effect yang masih ada setelah ulangan tadi, dan ternyata orang itu adalah Qonita, uh. Aku hanya bisa mengiyakan, dengan berbagai alasan sebelumnya agar bisa menikmati kesendirian.

Aku datang sedikit terlambat karena selain alasan buatan itu, aku juga harus mengurusi beberapa hal seperti shalat dan berbicara dengan Bu Pipih—wali kelasku—tentang rekapitulasi absensi, karena aku yang mengurusnya.

Ternyata kata Pak Effis—pembimbing teater Elips, teaterku—akan ada seseorang dari Production House yang akan datang dan mengadakan semacam casting. Sebenarnya aku tidak begitu berminat karena aku masuk teater hanya untuk belajar tampil di depan umum dan bersosialisasi, tapi apa salahnya dicoba?

Pada awalnya kami harus menunggu cukup lama, dan sejujurnya itu agak membosankan. Aku jarang melibatkan diriku pada pembicaraan karena pada akhirnya aku hanya akan menjadi pendengar, yang sebenarnya bisa aku lakukan tanpa masuk dalam pembicaraan itu.

Ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam sosialisasiku di sini. Pertama, aku bagian dari masyarakat urban, dan seperti yang dikatakan dalam pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup atau PLH, masyarakat urban bertolak belakang dengan masyarakat tradisional, dan di sini hampir semuanya masyarakat tradisional. Kedua, aku tetap kukuh mempertahankan bahasa Indonesia—meskipun tidak baku—sebagai bahasa utamaku, dan itu mempersulit komunikasi dengan lainnya yang kebanyakan memakai bahasa Sunda. Ketiga, jujur aku tidak begitu mengerti dengan banyak istilah sunda yang mereka bicarakan, jadi aku diam saja.

Lalu orang yang ditunggu pun datang. Awalnya hanya satu orang, lalu bertambah hingga menjadi beberapa orang. Dia berbicara tentang trik-trik untuk menjadi artis, aku tidak bisa membeberkan semuanya karena takut itu adalah rahasia dari si pembicara yang memiliki harga jual. Tapi intinya adalah perbanyak hubungan dengan banyak asisten sutradara, rajin casting, meminta dengan memberi, mengalah untuk menang, dan sabar dalam hal tenaga juga finansial.

Fakta-fakta yang dia beberkan adalah bahwa casting is free, alias gratis, atau dengan kata lain tidak dipungut biaya. Biaya yang dikeluarkan hanya untuk transportasi, makan, melobi, dan kostum. Kebanyakan agensi-agensi yang mencari artis aktor itu bukan dari kru perfilman dan bukan orang teater, jadi tidak jelas bagaimana nanti nasib artis yang disalurkan.

Lalu seperti yang kita tahu, sekarang banyak sekali reality show di stasiun TV. Dia berkata bahwa semua itu bohongan, tidak ada yang nyata. Tapi itu menjadi anugerah tersendiri, karena orang-orang pembuat reality show itu jadi membutuhkan para pemula yang tidak dikenal publik dan diutamakan berasal dari teater agar terlihat lebih nyata. Kurang lebih ini adalah salah satu pelatihan bagi yang ingin menjadi artis atau aktor di dunia perfilman Indonesia.

Dan akhirnya menuju tujuan utama, yaitu casting. Mereka bilang mereka membutuhkan beberapa orang untuk Multivision Plus untuk sinetron striping terbaru yang tidak aku ketahui—karena aku tidak tahu sinetron—dan juga beberapa orang untuk beberapa reality show. Okay, it’s showtime!

Orang-orang dibagi menjadi beberapa kelompok, aku bersama dengan Aa Egi, Aa Bimbim, dan anak teater SMP yang memiliki panggilan cute (dibacanya biasa saja, cu-té, tidak jadi kyut atau apapun itu). Kami dicasting oleh seseorang yang terlihat cukup baik.

Entah ini azab atau apa, namaku, Anita Kartini, dipanggil paling pertama. Dia menunjuk ke arah tembok polos dan berkata kepadaku “bayangkan ini kamera”, lalu berkata lagi “coba kamu perankan karakter marah, sedih, dan takut”.

Sebelum aku teruskan, ada fakta yang harus diketahui. Pertama, aku jarang marah dengan ekspresi. Kedua, aku tidak suka menangis seperti kebanyakan wanita. Ketiga, aku tidak bisa mengekspresikan rasa takut, apalagi jika takut kepada hantu (karena biasanya aku yang menjadi hantu).

Jadilah casting ini kacau bagiku.

Aku memerankannya sebisaku, meski aku yakin tidak akan maksimal karena sejak awal aku tidak begitu berminat. Saat aku bersedih ria, aku mencoba untuk menangis, tapi aku tidak bisa mengeluarkan air mata, sial! Coba ada bawang yang dikupas di sana.

Lalu aku sempat beradu akting dengan Aa Egi, ya cerita improvisasi yang mengalun begitu saja dari sahutan tidak jelas antara aku dan dia, sampai akhirnya ceritanya menjadi pasangan yang sedang bertengkar karena salah paham dan kekangan orang tua dan juga umur, kurang lebih aneh.

Lalu terakhir saat semua di kelompok kami selesai casting, si pengcasting itu memberitahukan kepada kami bahwa kami sudah cukup layak untuk tampil, dengan beberapa pengarahan lagi. Aku cukup puas, setidaknya untuk casting yang kedua dalam hidupku, setelah casting drama Raja Wales itu tentunya.

Setelah semua kesting-kestingan ini selesai, mereka pergi. Aku dengan temanku dan juga adik kelasku yang bernama Alya menuju mushala untuk shalat. Aku berwudlu terlebih dahulu, dan setelah itu menyahuti mereka yang sedang bermain kunti-kuntian di atas pohon dengan tawa kunti milikku.

Tiba-tiba saja kunti-kuntian ini memberikanku ide, aku ingin menakuti Alya yang saat itu sedang berwudlu dan pasti akan masuk ke dalam mushala. Aku menata rambut panjangku ke depan seperti kunti dan menunggu.

Saat Alya masuk, aku muncul.

Dan dia berteriak sangat keras.

Mengagetkan semua orang,

Termasuk aku.

Aku kaget karena dia berteriak sangat keras dan membuatku kaget juga agak tuli untuk beberapa detik, sampai saat aku sadar aku melihat Alya di luar dan menangis. Lalu terdengar bisikan,

Alig siaaa…

Anak orang dinangisin…

Bapanya tukang minyak…

Ibunya k u n t i l a n a k . . .

Aku jadi agak merinding juga.

Dan aku berpikir, memangnya seberapa menakutkannya aku?

Dan aku juga berpikir, kalau ini akting, berarti Alya benar-benar hebat, karena ini terlihat sangat riil.

Setelah itu aku mencoba menenangkan Alya dan meminta maaf, ya karena meski aku memiliki sifat jahil, aku tidak bisa tenang jika ada orang yang merasa terganggu.

Dan kemudian kami pulang. Kami itu adalah aku, Alya, Dina, dan Kress, juga diantar oleh Aa Egi sebagai pacar Dina dan Aa Johan yang tidak memakai sandal.

Ada sekitar setengah kilometer jarak antara SMA Pasundan 2 dengan jalan raya. Kami yang masih terkena casting effect menjadi lebih lebai dari biasanya. Aku, Alya, dan Aa Johan terus saja bercanda, saling injak, saling pukul, saling dorong, :D

Tiba-tiba aku hilang keseimbangan dan BRUSSSHH…. Kakiku masuk selokan, payah! Ditambah Aa Johan yang mendorong kepalaku dan berkata “sukur!!!”.

Aku tidak peduli dengan orang-orang yang melihat, anggap saja memberikan sedikit tontonan di sore hari. Aku menarik kakiku dan berjalan seperti biasa dengan lebih memperhatikan selokan. Tapi aku akui kakiku agak sakit.

Lalu kembali lebai, lebai, lebai, lebai, dan berlebihan. Hari ini, kurang lebih aneh, tapi aku suka.

08122009@aboutme

2 komentar:

  1. ehem template baruuuuuuu nih ahahaa LUCU anit . ini putih atau abu-abu sih?
    manteeeeeeeeeep bener! ;D

    BalasHapus
  2. ,ahaha si detut.. itu antara warna putih dan abu2.. pada layar yang cerah akan terlihat putih tapi kalau agak gelap jadi warna abu. kan menyesuaikan dgn warna kertas.. :D,

    BalasHapus