Indie School Fest SMANDA 2009

Hari ini, tepatnya tanggal 18 Desember mulai dari jam 2.30 siang sampai saat ini sedang diadakan Indie School Fest SMA Negeri 2 Tasikmalaya di Mayasari Plaza, Tasikmalaya. Salah satu acara dari sekian banyak acara yang ditujukan untuk merayakan ulang tahun SMA Negeri 2 Tasikmalaya.

Acara yang bekerjasama dengan Mayasari Plaza, Telkomsel, dan Style FM ini menampilkan banyak hiburan, mulai dari launcing Angklung "Awisada"—nama "Awisada" itu berasal dari kalimat awi nu disada di SMANDA—,lalu Band dari SMANDA hasil audisi, Band SMPN 1 Tasikmalaya, Band SMPN 2 Tasikmalaya, Band SMPN 5 Tasikmalaya, Band SMP Al Mutaqin Tasikmalaya, Debating bahasa Inggris, Nasyid, Telling Story in English, and Pop Singer.

Untuk info lebih lanjut, lihat di http://www.sman2-tsm.sch.id/2009/12/hut-smandatas-ke-42-tahun-2009/ karena aku tidak akan banyak membahas tentang teknisnya, tapi lebih ke apa yang aku rasakan dalam acara ini, saat ini.

Aku datang satu jam lebih awal dari mulainya acara, dan mulai mencari tempat acara. Setelah naik dan naik eskalator yang membuatku agak takut (karena entah mengapa aku agak takut ketinggian), lalu sampai di lantai tiga (jika lantai dasar disebut lantai satu). Aku tidak sulit menemukannya, sebuah panggung dengan banyak peralatan sound dan background berupa poster berwarna merah yang mencolok (wajar jika Telkomsel sponsornya). Lagipula di depan panggung itu ada sekitar 187 kursi yang dibungkus kain putih. Dan lagi tempatnya sendiri strategis yaitu berada di depan toko buku Karisma yang dapat terlihat dari lantai empat tempat jual makanan.

Diawali dengan pembukaan, tentu dengan cuap-cuap dan pemberian informasian fitur-fitur SMANDA dalam bentuk lisan juga slide show. Dihadiri oleh Wakil Walikota Tasikmalaya sebagai pembuka acara, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Ketua Komite SMAN Tasikmalaya, Eksekutif Direktur Mayasari Plaza, Pimpinan Telkomsel, Pimpinan style FM, Bapak dan Ibu Guru SMAN 2 Tasikmalaya, Para Tamu Undangan dan sebagian siswa siswi SMAN 2 Tasikmalaya.

Ada yang menarik perhatianku, yaitu tumpeng nasi kuning dan kue-kue di depan panggung. Aku tahu aku tidak akan mendapatkan makanan-makanan enak itu, tapi melihatnya saja sudah membuatku iri.

Dan kemudian jam demi jam berlalu dengan cukup cepat. Aku naik ke lantai 4 dan bertemu dengan Inot yang diundang untuk debating pada sesi 1. lalu aku mulai melakukan observasi harga makanan.

Oh ya, acara ini terbagi menjadi 2 sesi, yaitu sesi 1 mulai dari jam 14.30 - 17.30 WIB dan sesi 2 mulai dari jam 18.30 sampai 21.00 WIB.

Setelah lama berjalan dan window shoping, akhirnya aku menyimpulkan kalau harga-harga makanan di sini "mahal gila!" buat aku. Untuk sebuah jus buah TOMAT harganya melonjak menjadi 5 ribu rupiah, dan air mineral gelas harganya bisa menjadi seribu lima ratus! bayangkan!!! yang tadinya 500 perak jadi 1500 perak!!! Lalu makanan-makanan di atas 5 ribu merajalela di sini dan pastinya membuat kantong kempis. Betapa kejamnya lantai empat ini... Keputusan terakhir, aku mampir di Ichi Bento—mirip Hoka-hoka Bento—dan memesan paket yang sudah beserta nasi + minuman (meskipun cuma air mineral gelas) dan yang paling murah, dan membuat saldo dompet berkurang 14 ribu... ~_~ Hal ini terpaksa dilakukan karena perut sudah menyanyikan lagu bergenre keroncongan yang berjudul "minta diisi".

Tapi bagi yang mencari berbagai jenis makanan di satu tempat tanpa mempertimbangkan harga, Mayasari Plaza lantai empat ini pantas dicoba. Ada martabak, roti bakar, makanan jepang, jus, nasi goreng, soto, mpek-mpek, bakso, timbel, steak, pizza, kopi, bahkan Sheesha—rokok khas arab, katanya. Yang berbentuk seperti botol berpipa dengan ukuran yang besar—juga ada.

Lalu debat bahasa inggris yang sulit untuk didengar karena memang bahasanya cas ces cos juga sound yang kualitasnya kurang. Tapi aku salut dengan mereka yang sudah berani berdebat cas ces cos di depan umum, termasuk si Inot teman kakak kelas dan Tantan teman sekelas.

Lalu pertunjukan indie Band yang memekakkan telinga dan sayangnya suara vokalnya kurang jelas. Mungkin itu karena volume vokal dengan alat musik lainnya sama, jadi suara vokalnya terendam oleh suara musik. Tapi untuk pertunjukannya bagus.

Selebihnya aku tidak banyak melihat, karena aku lebih banyak online di dunia maya dengan fasilitas hot spot WiFi gratis.

1 komentar:

  1. He..hee.. acaranya meriah juga yaaa, itu kue dan tumpengnya kok dibiarkan di meja saja, tidak dimakan yaaaa....

    BalasHapus