Drama Ospet Jadi-jadian

Opening
Beberapa ini banyak sekali hal-hal yang tidak menyenangkan yang aku alami. Mulai dari ospet (semacam pelantikan teater) yang menyebalkan, nilai-nilai ulangan khususnya biologi yang tidak juga membaik, kesalah pahaman di Facebook, kelelahan karena tugas-tugas ini, sampai kekesalanku karena sulit melakukan hobi yaitu menggambar, menciptakan ilusi dalam pikir, dan berkomputer ria.

The Story
Kenapa aku beri judul seperti ini? karena memang begitulah yang aku rasakan. Ini adalah semacam pelantikan anggota teater dari beberapa sekolah yang berakhiran dua, seperti SMA Negeri 2, SMP Negeri 2, dan SMA Pasundan 2, still on Tasikmalaya. Hari Sabtu dan Minggu tanggal 17-18 Oktober kalau aku tidak salah. Sekarang aku menjadi panitia dan acara ini dilaksanakan di kampus SMAPAS2.

Tadinya aku kira akan menyenangkan, dengan beberapa orang yang sudah aku kenal dan ketahui, dan banyak peserta juga. Tapi ternyata yang menjadi panitia adalah orang-orang yang tidak aku kenal, mereka semua dari teater Kappas SMAPAS2. Sementara dari teater Elips dari sekolahku SMAN2, cuma ada aku dan teman bernama Qonita. Dan yang lebih parah, yang mengikuti acara ini dari SMAN2 cuma ada satu orang yaitu Alya. Aku pikir kenapa harus ada satu? kenapa tidak ada saja sekalian jadi aku bisa beristirahat dengan tenang aman damai sentosa.

Dalam pelantikan ini akan ada acara menginap, dan yang pastinya ada semacam 'bangun malam' yang sudah menjadi ciri khas dari berbagai pelantikan yang menginap (setidaknya dalam hidupku). Qonita tidak diizinkan oleh orang tuanya untuk menginap dan mau tidak mau aku harus menginap, tentu karena aku sudah mendapatkan izin.

Aku menjalaninya dengan biasa. Hanya ada beberapa orang yang aku kenal dan salah satunya ada yang bernama Vio dan Windi, mereka sangat baik kepadaku. Aku berkata begitu karena mereka membelikanku nasi goreng... :D Tidak itu saja, mereka juga baik dan ramah.

Tapi, bagaimana pun juga aku seperti sendirian. Mereka memiliki jadwal acara yang bahkan tidak aku ketahui. Aku hanya mengikuti alur dan melaksanakan apa yang bisa aku kerjakan. Pada akhirnya aku bisa tidur juga jam setengah 12 malam dikelilingi dengan suara bising dari mereka yang tidak tidur.

Jam setengah satu malam, aku terbangun karena mempersiapkan acara 'bangun malam' itu. Aku mendapatkan tugas di pos pemberangkatan dan di pos curhat. Oke, ini tidak terlalu buruk, setidaknya aku tidak harus memarahi dan menyuruh-nyuruh anak orang.

Peserta yang mengikuti acara ini ada 14 orang, kenapa begitu penting? karena nanti hal ini akan 'disulap' menjadi masalah oleh orang-orang yang tidak aku mengerti, orang lain menyebutnya sebagai alumni, dan ini alumni orang.

Semua peserta digiring ke aula lalu ditutup matanya. Kemudian satu persatu mereka dikeluarkan, dan aku harus mengucapkan 'mantra-mantra' sebagai panduan mereka sebelum berangkat.

"Jangan kosongkan pikiran... tolong jangan kosongkan pikiran... rileks dan tenang saja, tenang setenang-tenangnya, tapi jangan sampai kosong. ingat Allah, baca doa, baca surat-surat pendek, isi pikiran, jangan kosong..."

beberapa saat kemudian

"Udah tenang?"

kalau peserta mengangguk, aku mengajaknya ke tempat pemberangkatan

"Nanti kamu akan bertemu pos-pos, dan diantara pos itu ada pos bayangan sebagai penunjuk jalan. Di pos-pos itu kamu akan bertemu dengan panitia, dan sebagai manusia yang baik kita harus memberi salam... kemudian berlaku sopan, meski di antara panitia itu ada teman baik, tapi kali ini tolong hormati dia, karena sekarang posisinya di acara ini adalah sebagai panitia dan kamu sebagai peserta, jadi kamu harus sopan dan jangan ngelunjak..."

peserta biasanya mengangguk

"Trus di jalan kamu jangan kosongin pikiran... berhubung ini malam dan di sini suka berkeliaran hal-hal mistis, sebaiknya jangan kosongkan pikiran..."

mengangguk lagi

"Tapi kalo ada panitia yang omongannya kasar, jangan masukin hati. Ya MUNGKIN itu ungkapan kasih sayang cuma dengan cara yang salah..."

lalu aku membuka tutup matanya sambil berbisik (with sci-fi effect)
"jangan liat belakang..."

Biasanya peserta akan menengok sedikit ke belakang, tapi aku biarkan saja karena memang fungsi perkataan itu hanya agar mereka merasa sendiri. Lalu biasanya mereka bertanya harus kemana mereka dan aku menjawab

"Kamu lurus...." menunjuk sebuah lorong "truuuuusss sampai mentok, trus belok kanan..." menunjuk lorong lain "trus belok kiri..."

Peserta mengangguk lagi

"Di sana..." entah aku menunjuk sebuah sudut atau hanya sebagai kiasan "ada pos bayangan..." tentu saja karena sebenarnya aku juga tidak tahu di mana pos bayangan itu "ntar kamu ucapin salam dulu... trus yang sopan, ntar ditunjukin jalan..."

mengangguk

"Nah sekarang kamu bisa mulai..." aku sambil tersenyum

kemudian mereka pergi.


Dan hal itu harus aku ucapkan 14 kali, membuat rahangku pegal.

Lama kemudian, aku harus menjaga pos curhat atau yang mereka singkat sebagai PELACUR (PELAyanan CURhat). Entah karena para peserta itu tidak ingin mendapatkan masalah atau apa, mereka hanya berkata bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang membuat mereka kesal, itu membuat pos PELACUR tidak laku.

Tadinya aku agak heran, tapi setelah aku melihat para panitia membicarakan peserta-peserta yang tidak mereka suka, aku jadi paham. Tentu kita harus menjauhi masalah.

Kemudian para peserta digiring ke tempat api unggun di tengah lapangan sepakbola. Seperti biasa panitia (kecuali aku) menjahili mereka. Aku sedikit menyumpah dalam hati atas hal yang aku lihat.

Dan... eng ing eng... drama pun dimulai, dengan para alumni sebagai sutradara dan tokoh protagonis, panitia sebagai tokoh antagonis dan peserta sebagai hiasan.


Drama dimulai~
Tidak ada hujan juga petir, tiba-tiba para alumni memarahi panitia termasuk aku. Mereka bilang tugas kami tidak becus dan aku pura-pura peduli. Mereka mengumpat kami dengan berbagai kata dan aku masih pura-pura peduli. Padahal sebenarnya satu-satunya hal yang aku pedulikan saat itu adalah aku sudah sangat mengantuk karena sudah dua hari aku tidak tidur malam.

Searching for Problem~
Dan tiba-tiba mereka membahas tentang jumlah peserta, dan hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah mereka pasti mengangkat masalah peserta hilang. Memangnya mau apa lagi? Bisakah mereka lebih cerdik lagi dalam meracik drama agar terlihat lebih natural?

Benar saja, ada satu peserta yang raib. Dan para alumni orang memarahi kami habis-habisan. Aku lihat perjuangan para panitia mencari siapa peserta yang hilang, hanya saja menurutku itu sia-sia. Karena meski dicari sampai pagi pun peserta yang raib itu tidak akan ditemukan, dan teman-teman mereka pasti sudah diancam alumni agar tidak memberi tahu. Itu melengkapi raibnya daftar peserta di tas salah satu panitia.

Raib~
Cara pertama yang aku pikirkan adalah mencari alumni yang hilang. Peserta yang hilang itu pasti ditemani, karena seperti yang telah diketahui sudah banyak 'kejadian' di sana. Dan aku tahu siapa yang hilang, Pak Evi...

Kebetulan sekali aku tahu Pak Evi, salah satu guru PPL di SMAPAS2. Dia terlihat mencolok karena topinya. Selebihnya samar-samar saja. Aku memberitahu panitia lain dengan setengah berbisik "Pak Evi ga ada, cari..."

Untung saja ada salah satu panitia yang kenal Pak Evi, dan dia menghubungi nomor handphonenya...

"Halo..."
"Iya..."
"Pak, dimana?"
"Udah pulang..."

panitia lain melihat motor Pak Evi dan berbisik "boong... motornya aja ada di sini..."

"DI SINI!" ada yang setengah berteriak

telepon tertutup

Pak Evi dan peserta hilang itu telah ditemukan, tapi ternyata para alumni tidak mengakui kecerdikan para panitia dan berkata setengah mengejek "Yeuh... dituduh nyulik tah!"

Selebihnya, segala ceramah dan hukuman yang kami terima, termasuk memakan mie campur telur asin 'berlebih' yang tadinya dipersiapkan untuk peserta dan membuat sebagian orang muntah.

Aku tidak kesal dengan orangnya karena aku tahu itu hanyalah drama, tapi ada beberapa hal yang membuatku kesal. Yaitu mereka tidak mengakui bahwa panitia pun cukup cerdik, dan mereka menahan waktu shalat subuh panitia, parah!

Finally
Pagi hari, Qonita datang dengan cerah ceria sementara aku dalam keadaan lemas dan mengantuk. Aku memutuskan untuk pulang, dan... pulang... Setelah aku dan Qonita diberi sedikit pencerahan oleh Aa Citra tentang cara menekan mental agar lebih terlihat natural dan tidak seperti kejadian tadi yang aneh.

1 komentar:

  1. haha mantra-mantranya masih inget? HAHA yaiyalah orang dibaca 14 kali wkwkwkwk. kebayang gimana tuh. wkwkwk tapi berkesan mereun anitoot ?

    oo iya hebat lah yang pas panitia nemuin pak Evi! sipp. perlu dikembangkan tuh bkatna sugan we tah jadi siga conan tapi Real! wokwokwok

    BalasHapus