Unek-unek Episode 3

Banyak hal yang membuatku cukup kesal dan kecewa. Kesalku hanya sementara tapi tidak dengan kekecewaan, dan aku sangat kecewa atas banyak hal.

Terkadang aku harus menjadi orang lain untuk melaluinya. Tapi bukan sembarang orang lain, tapi orang yang sifatnya bertolak belakang dengan sifatku. Jika biasanya aku jahat, licik, diam, jutek, ketus, dan terkadang disconnect, sekarang aku harus menjadi seseorang yang centil, penggoda, lincah, baik, ramah, interest, dan hal lainnya.

Bukannya aku tidak mau mendapatkan peran itu dalam teater, tentu aku ingin mendapatkan dan mempelajari semua karakter yang ada. Tapi rasa kaku, canggung, dan tidak fokus karena tidak terbiasa selalu ada dan sebenarnya itulah yang sangat menggangguku.

Terkadang aku harus mengerjakan beberapa hal sekaligus dan semuanya membutuhkan pemikiran. Itu membuat pikiranku kacau dan juga mengacaukan kegiatan lain yang berdekatan waktunya. Meski aku yakin aku kuat, nyatanya aku bisa sakit juga sekarang—maksudku benar-benar sakit. Seperti saat aku latihan teater kemarin, aku kesal dan kacau gara-gara menumpuknya rasa kesal dari berbagai arah, dan akhirnya malah sakit panas. Intinya, aku kesal.

Kekecewaanku berasal dari semua ketidak adilan dan keabnormalan dunia saat ini. Mulai dari hal ringan yaitu kekurang lengkapan penulisan nama yang dapat berakibat fatal pada piagamku sampai semua kejadian buruk yang berasal dari pemerintahan yang korup. Jadi kata siapa pemerintahan ini sudah bagus? dasar semua manusia rieut!!!

Meminjam salah satu istilah di drama Basa Sunda 'Raja Wales', suara kerupuk saat dimakan: "Korupuk...korupuk...korup! Korupuk...korupuk...korup... Si...si...si!"

Tadinya aku tidak begitu tertarik dengan masalah pemerintahan setidaknya sampai hal itu merugikan diriku dan yang lainnya. Alkisah my father bekerja untuk sesuatu yang namanya litbang dalam pembuatan aplikasi yang cukup penting untuk Pemilu. Dia adalah programmer yang cukup handal dan aku bangga. Memang ada beberapa kesalahan tapi itu bukan berarti mereka bisa memotong pembayaran begitu saja! sementara PEGAWAI PEMERINTAH yang HANYA DIAM dan sepertinya NUMPANG NAMA saja mendapatkan bagian. Katakan saja misalnya dana yang turun dari pemerintahan pusat untuk program ini adalah Rp 40 juta, sementara my father yang merupakan pembuat aplikasi yang dikerjakan selama berbulan-bulan ini hanya mendapatkan katakanlah sekitar Rp 6 juta, apa itu pantas? Padahal apa yang dikeluarkan oleh my father aku rasa tidak sebanding dengan kerja mereka yang korup itu.

Semua keabnormalan ini membawa dampak yang sangat besar kepadaku. Baiklah, rencana membeli HP baru bisa ditunda—mungkin ditunda beberapa tahun seperti dulu—tapi bagaimana dengan uang sekolahku? Uang bangunan belum bayar, SPP 7 bulan belum bayar, dan sekarang ditambah uang daftar ulang!!! Kau tahu? aku jadi merasa tidak dihargai. Apalagi nilai ekstrakulikuler dan prestasiku di rapor banyak yang menghilang. Jadi aku tidak diakui oleh semua!!!

Bahkan cinta itu masih terlalu jauh untuk aku gapai. Aku memang dalam keadaan menunggu dan melihat, tapi aku bahkan tidak bisa mendapatkan sinyal karena terhalang tembok masalah. Ada yang menyarankanku untuk rehat—mungkin artinya beristirahat—tapi bagaimanapun cinta tidak bisa aku tinggalkan begitu saja. Rasa itu begitu besar dan memenuhi hati. Lagipula terakhir kali aku mengistirahatkan diri dari masalah ini, yang aku dapatkan adalah kabar buruk itu, dia ada yang memiliki.

Dan untuk melengkapi semua itu, aku tidak memiliki teman yang benar-benar bisa dipercaya di tempat ini. Aku ingin berbicara, aku ingin mengatakan semua ini tidak hanya di depan layar monitor, adakah yang bisa seperti itu tanpa meminta balas jasa?

Aku jadi merasa seperti manusia tersepi di dunia—meskipun itu belum tentu benar. I am unlucky girl...

6 komentar:

  1. Kesal,kecewa..aku juga gtu,c0z ada sesuatu yg aneh di skulku!

    BalasHapus
  2. kesal dan kecewa, semua orang pernah ngerasain itu... bedanya, ada yang terpuruk meratapi kekecewaan dan ada yang bangkit berdiri untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
    mungkin bener apa kata temen kamu, ini adalah waktunya rehat. bukan berarti diam atau tidur,melainkan merenung sejenak untuk membuka ruang dialog dalam nurani kita....

    BalasHapus
  3. hmmm....
    sebenarnya jika kita melihat kebawah kita (lihat kebawah meja, kursi, tempat tidur dll,,,), kita akan selalu menemukan yg lebih pantas meneriakkan keluhan....

    Nikmatilah hidup, pahit getirnya hanyalah sebuah sambel terasi yg nikmat...

    BalasHapus
  4. Sobat, dapat Award dari saya neh. tolong diambil yach... di sini neh:
    http://bayoearwani.blogspot.com/2009/08/sebelumnya-saya-mohon-maaf-karena.html

    BalasHapus
  5. Yup, kita hidup sesuai peran dan berbuat semampu kita. Jauh lebih baik kita selalu melihat ke bawah, dimana masih banyak orang yang memiliki permasalahan lebih berat namun mereka tetap tabah.
    Biarlah para koruptor mempertanggungjawabkan perbuatannya di akhirat kelak.

    Selamat menunaikan ibadah puasa, bulan penuh ibadah dan saran membina kesabaran dan tagwa.

    BalasHapus