Artistik itu yang bagaimana ya?

Apa yang akan kamu pikirkan pertama kali saat mendengar bahwa dirimu menjadi artistik di sebuah perlombaan teater? senangkah? bahagiakah?

Tapi kenapa sepertinya tidak mudah?

Itulah yang aku rasakan saat aku tahu aku harus menjadi Artistik untuk Teater Elips (teater sekolah) yang mengikuti perlombaan teater antar sekolah yang disebut Pasanggiri Teater.

Dan tiba-tiba datanglah suara jahat. Bukan jahat sih, tapi menakutkan. Berasal dari salah satu pembicaraan di kumpulan Teater kemarin.

Yang sedang berbicara adalah Aa Indra, pengasuh Teater Windu, Teater gabungan dan Teater Elips didalamnya. Sedang membicarakan tentang Pasanggiri Teater.

Aa Indra membicarakan tentang beratnya menjadi artistik dan segalanya. Itu sukses membuatku menjadi bahan olok-olok Medi, Icha “Nuriska”, Icha “Kharisma” (kenapa ada banyak nama 'Icha' dalam hidupku), Eva, dan banyak lagi. Bahkan mungkin juga Kharisma Anarchi, dan anak-anak kelas dua juga. Phew, hidup itu berat!

Ada salah satu contoh yang katanya bisa dijadikan pelajaran tetapi malah membuatku semakin menyesali nasibku sebagai artistik.

“Misalna ceuk artistik téh, helm ieu pantesna di dieu…” Aa Indra menaruh helmnya di sisi kanannya. “Tapi, ceuk sutradara téh, helm musti disimpen di dieu…” menaruh helmnya di sisi kirinya. “Kira-kira bisa teu sutradara ngubah éta téh?”.

Anak-anak banyak yang menggumam, berbicara sangat pelan. Tiba-tiba telingaku menangkap frekuensi suara Kharisma yang sangat pelan, “bisa…”. Sementara aku yang akan menjadi artistik malah tidak tahu harus menjawab apa. Dan tidak ada petunjuk atas hal itu, payah!

“Teu tiasa… éta sababna sutradara téh musti koordinasi heula jeung artistik…”

“Ooohhh….”

Dan kemudian, contoh yang lain.

“Nih, kalo misalna artis atawa aktor aya adegan jalan ka dieu…” Aa Indra menunjuk arah kiri dari pandangannya “…tapi tibalik, jalanna malah ka dieu…” Jalan ke kanan “…paling dibilang sama penontonna ‘ah, aktornya keur ngabodor’, gerrr weh penontonna” (ngabodor = tindakan yang mengarah kepada kecerobohan, basa Sunda).

“Tapi, kalo misalna artistik salah masang lampu tibalik. Trus dibilang ‘artistikna ngabodor’, pan teu ngeunah…” (teu ngeunah = tidak enak, basa Sunda).

Dan kata itu membuat semakin banyak fokus ke arahku seakan-akan mereka memang memperingatkanku kalau artistik adalah bagian yang teramat sangat berat. Aku hanya meratapi nasibku, malang sekali!

Huh, aku jadi bertanya-tanya, Artistik itu apa ya?

1 komentar: